-
Rasulullah adalah habibullah (Hamba yang sangat dicintai Allah). Kita
pun mencintainya dengan sepenuh jiwa. Bahkan keimanan kita mewajibkan
untuk lebih mengutamakan kecintaan kepada beliau daripada kecintaan
kepada anak, orang tua, diri sendiri, dan manusia seluruhnya. Para
sahabat Ridhwanullah 'Alaihim telah menunjukkan kecintaan kepada beliau
yang tak
ada tandingnya. Apapun kan
dikobrankan demi melindungi diri beliau. Segalanya kan diberikan untuk
menebus diri beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Hewan, tumbuhan, batu,
dan gunung tak mau ketinggalan; mereka telah menunjukkan kecintaan dan
penghormatan kepada beliau yang sangat sepanjang zaman
Mentaati
beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Ini merupakan tanda paling utama
yang menunjukkan benarnya kecintaan kepada beliau. Allah Ta'ala
berfirman,
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
"Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati
Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami
tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka." (QS. Al-Nisa':
80)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang kewajiban mentaati beliau,
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ
اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang."(QS. Ali Imran: 31)
Al-Imad
Ibnul Katsir berkata dalam tafsirnya, "Ayat yang mulia ini menghakimi
atas setiap orang yang mengaku cinta kepada Allah sedangkan ia tidak
berada di atas jalan hidup Nabi Muhammad, bahwa ia berdusta dalam
pengakuannya pada saat itu juga. Sehingga ia mengikuti syariat Nabi
Muhammad dan dien Nawabi (Islam yang beliau bawa) dalam semua perkataan
dan perbuataannya
Satu, Cinta kepada Allah tidak cukup hanya
pengakuan. Tapi harus disertai pembuktian. Dan tanda bukti nyatanya
adalah mengikuti utusan-Nya Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam semua
keadaanya; baik dalam perkataan dan perbuatannya, dalam pokok agama dan
cabangnya, dalam zahir dan batinnya. Maka siapa yang mengikuti Rasul itu
menunjukkan benarnya pengakuannya. Dan siapa yang tidak mengikuti
Rasul, ia tidak cinta kepada Allah Ta'ala. Karena kecintaan kepada Allah
mengharuskan untuk mengikuti utusan-Nya. Jika hal itu tidak ditemukan
pada seseorang, menunjukkan tidak adanya kecintaan kepada Allah, ia
dusta dalam pengakuannya.
Kedua, cemburu atas beliau dan
ajarannya. Marah jika kehormatan beliau dan agama yang beliau bawa
direndahkan. Kecemburuan ini menuntut realisasi nyata, tidak cukup hanya
dengan perkataan semata. Misalnya, membuat bantahan terhadap syubuhat
buruk yang dialamatkan kepada beliau dan sunnahnya, melakukan tuntutan
dan perlawanan kepada mereka yang sengaja melecehkan beliau baik yang
melalui lukisan karikatur, pembuatan film, dan semisalnya.
Ketiga, mengagungkan dan memuliakan pribadi beliau dan tidak meremahkan
sunnahnya. Karena ada sebagian manusia yang mengklaim cinta Nabi, tapi
ia mengejek orang yang menghidupkan sunnahnya seperti memanjangkan
jenggot, tidak isbal dalam berpakaian, bersiwak, dan lainnya. Selayaknya
orang yang cinta kepada beliau ia semangat menghidupkan sunnahnya.
Sebuah keharusan, memuliakan beliau sekaligus sunnahnya. Dan di
antaranya bentuk pemuliaan, tidak memanggil beliau dengan namanya semata
tetapi dengan menisbatkan kepada nubuwah dan risalah serta menyertakan
shalat dan salam atasnya.
Keempat, memperbanyak bacaan shalawat
kepada beliau. Karena siapa yang mencintai seseorang pastinya ia sering
menyebut namanya. Maka siapa yang cinta kepada beliau ia sering
membacakan shalawat dan salam kepadanya. Sesungguhnya bershalawat kepada
beliau mengandung keberkahan, doa, pengagungan, dan pemuliaan.
Kelima, sering mengingat beliau, rindu dan berharap perjumpaan dengan
beliau di surga. Terdapat dalam satu hadits, "Di antara umatku yang
sangat mencintaikku adalah mereka yang hadir sesudahku, salah seorang
mereka menginginkan kalau saja bisa melihatku dengan membawa keluarha
dan hartanya." (HR. Muslim)
Adalah Bilal, saat berada di
pembaringan kematiannya mengatakan: "Besok aku akan berjumpa dengan para
kekasih tercinta, Muhammad dan para sahabatnya."
Keenam,
mencintai apa yang beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam cintai dari jenis
manusia, makanan, minuman, perkataan, tempat, waktu, dan selainnya.
Inilah kecintaan yang sempurna. Karenanya kita mencintai keluarga beliau
secara keseluruhan dan para sahabatnya yang mulia.
Ketujuh,
berkahlak dengan akhlak yang dimilikinya dan meniti jalan hidup yang
telah ditempuhnya. Karena dalam perjalanan hidupnya terdapat keteladanan
yang mulia.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ
حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ
اللَّهَ كَثِيرًا
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah
itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut
Allah." (QS. Al-Ahzab: 21)
Sesungguhnya beliau Shallallahu
'Alaihi Wasallam adalah Al-Qur'an yang berjalan di tengah-tengah
manusia. Semua perkataan dan perbuatannya adalah terjemahan aplikatif
dari kitab suci yang mulia. Karenanya, selayaknya kita meniru akhlak
Nabi, mengikuti jalan hidup dan petunjukkan dalam makan, minum, tidur,
bermu'amalah, dan dalam segala hal. Semua ini merupakan bentuk kecintaan
kepada beliau yang sesungguhnya. Wallahu Ta'ala A'lam.